Pasca bentrokan di Tanjung Bintang, Ketua Korwilcam II LSM GMBI, tuding Kades Wawasan pemicu keributan Lampung Selatan

     

TRANSSUMATERA-Ketua Korwilcam II LSM GMBI Lampung Selatan, Kasmin Eko Purwanto sangat menyayangkan terjadinya bentrokan pisik yang terjadi dihalaman Balai Nikah KUA Tanjung Bintang antara LSM Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) dengan Pemuda Pancasila (PP) yang mengakibatkan satu orang Anggota PP terluka dibagian hidung pada Rabu (29/7) lalu, Kasmin pun mempertanyakan siapa yang mengundang Pemuda Pancasila hadir pada saat Audensi antara GMBI dengan Muhtadi dan Topan (mantan PPN dan sekdes) desa Wawasan di KUA Tanjung Bintang bahkan dengan tegas Kasmin mempertanyakan kehadiran Agus Prasetyanto yang ikut hadir pada saat Audensi dengan menggunakan seragam Ormas PP sementara diketahui Agus adalah seorang Kades Wawasan Kecamatan Tanjung sari, hal itu dikatakan Kasmin pada Awak Media dikediamanya pada Minggu (2/8).                  Menurut Ketua Korwilcam II LSM GMBI, Kasmin Eko Purwanto, Audensi antara GMBI dengan Muhtadi dan topan (mantan PPN dan Sekdes) warga desa Wawasan Kecamatan Tanjung sari di Balai Nikah KUA Tanjung Bintang pada Rabu (29/7) lalu itu atas permintaan GMBI selaku penerima kuasa dari Jumali warga desa Wawasan yang menikah pada tahun 2012 hingga saat ini tidak memiliki surat Nikah sementara pengakuan Jumali, dirinya pada saat itu sudah membayar biaya Administrasi sebesar Rp. 1,2 juta kepada Topan yang yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris desa wawasan. “Audensi itu resmi bahkan sudah diagendakan hari dan tanggal pelaksanaanya oleh KUA Tanjung Bintang,  yang diundang oleh KUA pun hanya orang yang terkait dalam masalah ini, seperti Muhtadi dan Topan bahkan yang mengantarkan undangan tersebut juga Anggota GMBI, disitu tidak ada undangan untuk Agus sebagai Kades atau Agus sebagai Ketua PAC Ormas PP Kecamatan Tanjung sari, kalau pun Agus tidak mendapat undangan tapi hadir sebagai Kades yang mendampingi warganya, itu sah sah saja, karena agus waktu itu ikut hadir Audensi dengan berpakaian seragam PP serta dikawal oleh puluhan Anggota PP itu yang jadi pertanyaan, karena dalam masalah ini yang mempunyai kepentingan itu hanya pihak GMBI, Topan dan Muhtadi, kalau Ormas PP tidak ada kepentingan terkait Audensi itu, “beber nya.                                                    Pada saat Audensi Rabu 29/7 kemarin, sambung Kasmin, tidak mendapat solusi dikarenakan, topan yang pada saat itu (tahun 2012) menjabat sebagai sekdes tidak mengakui kalau sudah menerima uang Administrasi biaya Nikah Rp. 1,2 juta dari Jumali sedangkan Muhtadi yang saat itu menjabat PPN mengakui menerima uang dari Topan sebesar Rp. 75 ribu berupa uang transportasi sebagai PPN yang menikah kan Jumali.  “sementara sebelum diadakannya Audensi di KUA, itu pihak GMBI sudah Investasi pada Topan dan Muhtadi terkait masalah Jumali dan mereka (Topan dan Muhtadi) saat itu mengakui kalau telah menerima uang Administrasi dari Jumali sebesar Rp. 1,2 juta, dikarenakan Topan tidak mengakui disaat Audensi, akhirnya dilakukan Sumpah oleh Ka KUA, selesai itu semua yang ikut Audensi keluar dari ruangan Ka. KUA, setelah itu terjadilah bentrokan antara GMBI dengan Ormas PP, “sambung Kasmin.                                            Dia Menambahkan, Rabu malam setelah terjadi bentrokan antara GMBI dan PP, pihak GMBI Distrik Lampung Selatan bertemu dengan Herman, Sekretaris Pemuda Pancasila Kabupaten Lampung Selatan dikediaman Herman didesa Raja basa Kecamatan raja basa, dari pernyataan Herman diketahui ternyata kedatangan Puluhan Anggota Pemuda Pancasila di KUA Tanjung Bintang yang dipimpin oleh Agus (Kades Wawasan)  ternyata tidak ada koordinasi atau izin dari  Pimpinan pengurus PP Kabupaten Lampung Selatan. “ya, menurut sekretaris PP Kabupaten, gerakan PP di Tanjung Bintang pada Rabu 29/7 itu tidak diketahui pimpinan PP Kabupaten, berarti itu kehendak Agus Prasetyanto, sementara kalau Ormas PP tidak ada dihari Audensi pada Rabu 29/7 itu, kemungkinan tidak akan terjadi keributan, disini kalau Publik dan penyidik mau tau yang sebenarnya dan banyak saksi mata yang melihat, pada Rabu 29/7 itu, GMBI belum datang ke KUA,  itu Ormas PP berikut Agus terlebih dulu dari pagi sudah ada disekitar KUA  Tanjung Bintang, “imbuh nya.                           Dalam Pantauan Awak Media dilokasi pada Rabu (29/7), Pemicu bentrokan terkait buku Nikah salah satu warga Wawasan yang menikah di tahun 2012 hingga saat ini tidak memiliki surat Nikah lalu diadakan Audensi untuk mencari penyelesaian, namun berakhir ricuh hingga terjadi bentrokan pisik antara GMBI dengan Pemuda Pancasila dihalaman Kantor Urusan Agama (KUA) di desa Jati Baru Kecamatan Tanjung Bintang, akibat dari bentrokan itu satu orang dari Pemuda Pancasila mengalami luka bagian hidung, bentrokan bisa diamankan oleh Kapolsek Tanjung Bintang, AKP. Talen Hafish.                                                                 Sementara, pada saat itu Rabu (29/7) Ka. KUA Tanjung Bintang, R. Imam Komari.S.Ag.  menegaskan, diadakannya Audensi itu dikarenakan mengajukan secara resmi dari GMBI (pihak Jumali) untuk minta klasifikasi dari Muhtadi dan Topan (Mantan PPN dan Sekdes) terkait buku Nikah milik Jumali sejak tahun 2012 hingga saat ini tidak keluar, sehingga disepakati diadakan Mediasi untuk mencari solusi yang terbaik.  “Audensinya itu disepakati pada hari ini dan diberikan undangan pada yang terkait Muhtadi dan Topan (mantan PPN dan Sekdes Wawasan) karena Audensi ini atas permintaan GMBI, tadi Audensinya tidak menemukan solusi hingga ada salah satu pihak akan meneruskan masalah ini ke Polsek Tanjung Bintang, setelah usai Audensi semua keluar dari ruang KUA, lalu terjadilah bentrokan dihalaman KUA antara GMBI dan PP, permasalahannya saya tidak tau, “beber Komari.                         Persoalan ini, sambung Imam Komari, terkait permasalahan seorang warga desa Wawasan yang bernama Jumali menikah pada tahun 2012 yang pada saat itu sebagai PPN nya adalah Muhtadi, pengakuan Jumali dirinya telah menyerahkan uang sebesar Rp. 1.200.000 kepada Topan  untuk biaya Administrasi hingga keluar Buku Nikah namun hingga saat ini buku Nikah tersebut tak kunjung ada, sehingga Jumali minta bantuan GMBI untuk mengurus masalah ini di KUA. “setelah di cek di KUA, administrasi atas nama Jumali untuk pernikahan di tahun 2012 ternyata tidak ada, sebelumnya saya beri solusi kepada pihak Jumali maupun Muhtadi (mantan PPN), pihak KUA siap membantu menikahkan  kembali hingga keluar buku Nikah, tetapi kalau mengacu kepada peraturan itu harus melalui Pengadilan Agama, harus Isbhat terlebih dahulu baru kembali ke KUA dan kita Nikahkan bahkan pihak desa siap membuatkan persyaratanya,  kalau tidak mau melaksanakan Isbhat, itu berarti pernikahan yang sebelumnya dianggap tidak ada, dalam Audensi tadi pihak Topan tidak mengakui telah menerima uang untuk biaya Nikah dari Jumali makanya surat Nikah tidak keluar, ahirnya  ada salah satu pihak akan melanjutkan masalah ini ke Polsek Tanjung Bintang, “sambung dia.                      Terpisah, pada saat usai terjadi bentrokan pisik antara GMBI dan Ormas Pemuda Pancasila, Agus Prasetyanto Kades Wawasan yang juga Ketua PAC Ormas PP Kecamatan Tanjung sari saat dimintai tanggapanya pada Rabu (29/7) terkait terjadinya bentrokan antara GMBI dan PP.  “jangan moto moto mas, nanti aja ya,” cetus agus sambil menutup kaca mobilnya lalu meninggalkan Area Parkir Puskesmas Rawat Inap Tanjung Bintang.  (Firdaus) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: