Bandar Lampung, Transsumatera — Sutradara Hanung Bramantyo mengungkap pesan sosial yang ingin disampaikan melalui film Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah. Film tersebut tidak hanya mengandalkan unsur horor dan misteri, tetapi juga mengangkat persoalan penyalahgunaan kekuasaan serta tekanan yang dialami masyarakat kecil.
Hanung mengatakan film ini dibuat sebagai pengingat bagi generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial, agar tidak melupakan berbagai peristiwa yang terjadi lebih dari setengah abad lalu.
Meski mengambil latar menjelang tragedi 30 September 1965, Hanung menegaskan Lobang Buaya merupakan karya fiksi. Pendekatan horor digunakan untuk mengangkat kembali situasi sosial yang berkembang sebelum tragedi tersebut.
“Yang harus dicermati di dalam film ini adalah bukan peristiwa 30 Septembernya, tetapi satu tahun sebelumnya,” ujar Hanung dalam wawancara usai screening film di Mall Boem Kedaton, Sabtu (26/9/2026).
Film tersebut mengambil latar Indonesia pada 1964. Cerita berpusat di Desa Lobang Buaya yang diguncang serangkaian pembunuhan misterius terhadap sejumlah tokoh desa.
Kasus tersebut kemudian memunculkan rumor mengenai sosok “Hantu Bolong”. Letnan Soegeng, diperankan Baskara Mahendra, ditugaskan untuk mengungkap dalang di balik pembunuhan tersebut.
Di tengah penyelidikan, istri Soegeng, Arum Wangi yang diperankan Carissa Perusset, juga mengalami gangguan dari sosok perempuan misterius. Teror tersebut perlahan menghubungkan pengalaman Arum dengan kasus pembunuhan yang terjadi di desa.
Hanung mengatakan cerita film juga terinspirasi dari fenomena yang disebutnya sebagai “Tujuh Setan Desa”. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kelompok yang dianggap menekan dan mengambil keuntungan dari masyarakat kecil.
“Untuk saat ini mereka bisa dikatakan seperti tuan tanah, birokrat, lintah darat, tengkulak, pengijon atau pengepul, penguasa, dan preman desa,” jelasnya.
Melalui gambaran tersebut, Hanung ingin memperlihatkan bagaimana kekuasaan dapat memengaruhi kehidupan masyarakat. Pihak yang seharusnya melindungi rakyat juga dapat menyalahgunakan jabatan dan pengaruhnya.
Film ini juga memasukkan konflik agama dan kepercayaan sebagai bagian dari cerita. Salah satu unsur yang muncul adalah Ghayat al-Hakim.
Namun, Hanung menegaskan unsur tersebut tidak digunakan sebagai fakta sejarah. Ia mengaku hanya menemukan beberapa lembar dari kumpulan kitab tersebut dan mengembangkannya sebagai bagian dari dunia fiksi.
“Untuk itu saya pernah lihat lembaran sobek saja, tetapi itu tidak bisa dijadikan landasan yang kuat. Tapi itu, unsur dikembangkan sebagai bagian dari dunia fiksi Lobang Buaya,” ucapnya.
Selain itu, karakter ronggeng turut dihadirkan untuk menggambarkan kehidupan masyarakat desa pada masa tersebut. Dalam film, ronggeng digambarkan sebagai hiburan rakyat yang dapat dikontrak oleh tuan tanah.
Hanung juga sengaja menghadirkan plot twist berlapis dalam film. Penonton tidak hanya diarahkan untuk mencari tahu siapa pelaku pembunuhan, tetapi juga terus mempertanyakan hubungan antara berbagai kejadian yang terjadi di Desa Lobang Buaya.
Pendekatan tersebut, kata Hanung, terinspirasi dari film-film Korea Selatan yang mengandalkan kekuatan cerita dan plot.
“Plot twist-nya sungguh gak ketebak banget,” kata Monica, salah satu penonton.
Hanung menyebut bagian akhir film tidak memberikan seluruh jawaban karena cerita yang ditampilkan merupakan bagian awal dari rangkaian tragedi yang lebih besar.
Hanung mengungkapkan riset mengenai isu yang menjadi dasar film tersebut telah dilakukan sejak dirinya masih duduk di bangku SMA. Penulisan skenario dimulai sekitar 2022, sedangkan proses produksi berlangsung pada 2024.
Film ini dibintangi Baskara Mahendra sebagai Letnan Soegeng, Carissa Perusset sebagai Arum Wangi, Anya Zen, Iskak Khivano, dan Mathias Muchus.
Bagi Anya Zen, film tersebut menjadi pengalaman tersendiri karena ia berkesempatan beradu akting dengan Mathias Muchus. Ia mengaku sempat gugup ketika menghadapi adegan yang membutuhkan emosi kuat, tetapi arahan Hanung dan Mathias membantunya memahami karakter.
Film produksi Adhya Pictures dan Dapur Films tersebut dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 1 Oktober 2026.
Melalui Lobang Buaya, Hanung tidak hanya membangun cerita horor tentang teror dan pembunuhan misterius. Film ini juga menghadirkan gambaran mengenai relasi kekuasaan, tekanan terhadap masyarakat kecil, serta situasi sosial yang menjadi latar sebelum tragedi 1965.
![]()
