SUPONO (KEPSEK SDN BRAJA DEWA LAMPUNG TIMUR) DIDUGA GROGOTI DANA BOS

TRANSSUMATERA.ID — Tidak disangka – sangka, Kepala Sekolah Dasar (SD) Negeri Braja Dewa, Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur, Supono diduga merupakan sosok yang sangat licik dan jahat, pasalnya sejak tahun 2017 hingga 2020, Supono diduga telah melakukan tindakan Korupsi,Kolusi Dan Nepotisme (KKN) Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di dua sekolah yang berbeda.

Menurut pengakuan nara sumber, dan data yang dimiliki mengungkapkan bahwa, Supono diduga sebagai dalang bobroknya dunia pendidikan yang ada di SDN Braja Saka pada tahun 2017 – 2018 silam, hal ini terjadi lantaran Supono diduga melakukan Korupsi dana BOS. “Walah mas, saat kepsek lama yang pimpin tu sekolah, itu sekolah parah betul tidak ada kemajuan sama sekali yang ada malah semakin ketinggalan,” ungkap sumber yang enggan namanya di sebutkan.

Selain itu, sumber juga mengatakan jika, Supono merupakan sosok yang sangat tekun dalam menggerogoti dana BOS, hal itu dilakukanya demi memenuhi kebutuhannya yang banyak. “Dia itukan hidupnya selalu glamor, untuk memenuhi gaya hidupnya dia rela melakukan tindakan Korupsi,” ungkapnya.

Sumber melanjutkan, dugaan KKN yang sangat ketara dilakukan pada penggunaan dana BOS, seperti anggaran rehab ringan sekolah, dan perbaikan sarana dan prasarana sekolah, pasalnya sejak tahun 2017 – 2018, kegiatan untuk rehab ringan sekolah dan kegiatan lainya sangat minim sekali. “sekarang mending lah sudah banyak perubahan, kalau dulu saat Pak Supono jadi kepsek parah,” ujarnya.

Tidak sampai disitu, dari hasil penelusuran di SDN Braja Dewa, dimana tempat Supono Kini menjabat sebagai kepala sekolah, diduga juga banyak sekali kejanggalan pada realisasi Dana BOS tahun 2019 – 2020. Hal ini juga diperkuat dengan pengakuan dari sumber yang cukup bisa dipercaya.
Pasalnya, pada tahun 2019, diduga anggaran untuk rehab ringan sekolah, seperti pengecettan sekolah, perbaikan atap yang bocor atau untuk perbaikan plapon, tidak direalisasikan sebagaimana mestinya, sebab pada tahun itu untuk kegiatan Rehab ringan sekolah sangat minim sekali dilakukan.

Selain itu menurut pengakuan sumber mengungkapkan jika, pada tahun 2019 hingga 2020, rehab ringan sekolah yang dianggarkan dari dana BOS hanya digunakan untuk pengecettan saja, itu pun hanya dilakukan satu kali. “Wah kalau itu si jarang, sejak tahun 2019 – 2020 hanya satu kali pengecetan,” ungkapnya.

Iya melanjutkan, untuk kegiatan lainya, seperti perbaikan sarana prasarana, juga diduga tidak direalisasikan sebagimana mestinya. Seperti jumlah alat keberisihan sekolah berupa sapu, tempat sampah dan alat pembersih lainya yang jumlahnya tidak sesuai dengan anggaran BOS yang diterima.

Sumber lain juga mengungkapkan jika, ditahun 2020 ini, terutama di masa Pandemi Virus Corona, banyak sekali wali murid yang komplain dengan kepala sekolah tersebut, hal itu dikarenakan Supono selaku kepala sekolah terkesan justru mau cari – cari kesempatan untuk mengambil keuntungan dana BOS. “Dimasa Pandemi virus Corona ini kan, anggaran untuk kegiatan ujian sekolah atau ujian nasional kan dialihkan untuk kegiatan belajar Daring dengan tujuan untuk pencegahan penularan virus Corona, namun implementasi yang dilakukan oleh Supono selaku kepsek membuat wali murid mengeluh kalau begini berarti ada apa,” ungkapnya.

Iya juga mengungkapkan jika sebagai kepala sekolah Supono juga menjabat di BPD Desa Braja Dewa, dan hal itu jelas sudah melanggar peraturan.

Iya melanjutkan, sebagai kaum cendikiawan Supono seharusnya bisa lebih bijaksana, bukan malah terkesan serakah. ” Seharunya dia memberikan ruang yang lebih kepada para pemuda desa untuk berkembang karna banya pemuda – pemudi desa yang berpotensi untuk menduduki berbagai posisi di BPD,” ujarnya.

Dilain sisi, LSM TOPAN RI, mengatakan, jika para kaum cendekia seperti guru – kepala sekolah yang semestinya menjadi senter utama dalam mencerdaskan generasi penerus bangsa, seharunya berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan berbagai hal yang ada disekolah bukan justru menjelma Menjadi sosok Antagonis dan menjadi Momok layaknya sengkuni yang mempunyai perangai licik, serta siasat yang menjadi cikalbakal kemunduran moral bagi peserta didik itu sendiri, dan apa bila hal ini itu benar-benar terjadi maka hancurlah moral para cendekia itu.

Iya berharap, agar pemerintah terkait dapat melakukan pengecekan atau pemanggilan terhadapat kepala sekolah, agar paling tidak masalah tersebut dapat segera teratasi. (Amuri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: