Pemberhentian 2 Imam Lingkungan di Kelurahan Bulukunyi, Camat Polsel: Itu Sah Sah Saja dan Sesuai Regulasi

Takalar – Sehubungan dengan pemberitaan dimedia beberapa hari lalu soal pemberhentian imam lingkungan Makammu 2 dan imam lingkungan Tengko di kelurahan Bulukunyi ditanggapi serius oleh camat Polongbangkeng Selatan, Baharuddin Limpo S.sos M.si selaku yang menetapkan Surat Keputusan (SK).

Saat dikonfirmasi melalui pesan whatsaap pribadinya Jum’at (12/06/2020), Camat Polsel mengatakan, “Menurut saya mulai dari usulan, pemberhentian dan pengangkatan imam lingkungan Makammu 2 dan Tengko, itu sah sah saja, apalagi saya mendapat informasi dimana imam yang diberhentikan tersebut terkadang tidak mendengarkan arahan atasan dan tidak mengindahkan himbauan dari pemerintah, tentunya hal ini sudah sesuai dengan regulasi yang ada” singkatnya.

Sementara itu, Lurah Bulukunyi Muh. Nur SE, yang berhasil dikonfirmasi juga, memberikan klarifikasi terkait pemberitaan tersebut, “Terkait pemberhentian 2 imam lingkungan yang heboh di medsos, maka saya mengklarifikasi bahwa ini sesuai dengan prosedur pengangkatan atas dasar pengusulan dengan pertimbangan tertentu, tetutama dari segi kompetensi dalam menjalankan Tupoksinya,
Melalui media ini saya ingin menjelaskan bahwa saya mengusul kepada pak camat Polsel dari dasar pengusulan Ketua LPM dan Imam Kelurahan Bulukunyi yang disertai laporan tertulis atas pelanggaran yang telah diperbuat oleh imam lingkungan Tengko dan Makammu 2, terutama tidak mengindahkan himbauan MUI dan pemerintah dalam meniadakan shalat berjamaah di mesjid dengan mengganti shalat berjamaah dirumah masing masing dengan tujuan menghindari berkumpulnya massa tidak terlalu banyak demi mencegah penyebaran Virus Covid 19″, jelasnya.

Maka dari itu imam kelurahan Bulukunyi yang notabenenya sebagai pembina keagamaan di kelurahan dan ketua LPM sebagai pimpinan organisasi kemasyarakatan mengusul kepada pemerintah kelurahan untuk diberhentikan sebagai sanksi terhadap bawahan yang tidak loyal terhadap pimpinan, terkait mengenai memimpin shalat id atau khotib itu hal yg mulia akan tetapi mengumpulkan massa yang banyak inilah yang dihindari apalagi saat itu belum ada himbauan untuk bisa shalat berjamaah dimasjid, disamping itu Imam Kelurahan dan Ketua LPM juga memberikan alasan terutama dari segi umur sehingga dalam memimpin shalat berjamaah sudah berpengaruh fisik mereka, baik penglihatan maupun pendengarannya, dan itu memang perlu ada penyegaran demi peningkatan pelayanan keagamaan di kelurahan Bulukunyi” Tutup Muh. Nur.

Seiring itu saat Kabag Pemerintahan yang coba dimintai tanggapannya terkait Tupoksi Pemerintahan, belum berhasil dikonfirmasi. (WAHYU)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: